Selasa, 30 November 2010

Manusia Berhadiah Vs Manusia Berpahala

Ada banyak hal yang kita anggap remeh temeh yang menjadi persoalan besar di kemudian hari. Saya yang sangat berantusias dengan segala pola tingkah laku masyarakat yang kebanyakan terjadi di sekitar saya, memunculkan berbagai pertanyaan dan kritikan akan hal kebiasaan-kebiasaan yang telah terjadi tersebut. Bagi saya, ada banyak hal yang menarik untuk dipelajari dalam ilmu bersosial di tengah masyarakat. Sebab,,, kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan dalam masyarakat akan dapat menjadi sebuah budaya, dan budaya tersebut bisa jadi terangkum di dalam tatanan adat, dan adat sendiri merupakan salah satu sumber hukum positif di Indonesia.

Kebiasaan yang kali ini menarik untuk di kaji adalah budaya "memberi hadiah".
Dari kecil kita sudah di bina untuk melakukan sesuatu dengan di iming-imingi hadiah, "Nak...kalau kamu dapat peringkat satu, Ayah akan membelikan kamu sepeda" ini adalah salah satu contoh, atau paling tidak dengan mengharapkan imbalan/upah ketika Ayah menyuruh kita belanja membeli sesuatu. Hal inilah yang membuat kita menjadi "manusia berhadiah". Bekerja dengan mengharapkan hadiah.

Lama kelamaan ini akan menjadi kebiasaan yang buruk, kenapa?
Karena, budaya memberikan hadiah saat ini sudah di salah gunakan. Seperti, ketika orang tua memberikan hadiah kepada kepala sekolah saat musim penerimaan siswa baru dengan lebel "tanda terimakasih" Apakah hal ini diperbolehkan?

Dalam Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi (TIPIKOR) pemberian hadiah kepada pejabat tinggi, pejabat berwenang, dan pejabat lainnya di artikan dengan "GRATIFIKASI", sama hal nya dengan menyogok, dan ini dapat di ancam dengan pidana.

Selain itu, budaya berhadiah ini dapat juga mengakibatkan manusia bekerja atau melakukan sesuatu itu dengan rasa tidak ikhlas karena mengharapkan hadiah, bukan pahala! bukan keridhoan Allah SWT! Ini menjadi permasalahan kecil yang krusial, kenapa? Masih ingatkah anda dengan tugas PPKN/PKN/KWN zaman SD dulu yang bertemakan "SUKA RELA"? Ini sudah jauh dari diri kita. Padahal melakukan sesuatu demi kebaikan adalah tugas kita bersama tanpa mengaharapkan imbalan apapun.

Terlebih lagi itu terjadi pada pelayanan publik, sudah selayaknya seorang Kepala Sekolah menerima siswa yang di rasa pantas dan mampu untuk masuk di sekolah yang ia Bina. Tidak mesti di kasi hadiah! upah! dan lain sebagainya. Dengan begitu pun, sang Kepala Sekolah telah dapat turut membantu mewujudkan cita-cita Negara Indonesia, yang terangkum dalam Pembukaan UUD 1945, yakni Mencerdaskan Kehidupan Bangsa.

Bukankah Kepala Sekolah juga akan turut dikenang sebagai para pahlawan tanpa tanda jasa?
Masih pantaskah Kepala Sekolah dikatakan sebagai pahlawan tanpa tanda jasa?

Hal ini kembali kepada apa yang telah diperbuat oleh Kepala Sekolah tersebut. Akan ada banyak nama yang patut untuk dikenang dalam sepanjang masa, hanya saja kita lah yang harus memilih, apakah nama kita akan dikenang sebagai suatu kebaikan atau sebagai suatu kejahatan.

Jadilah "Manusia Berpahala" yang bekerja, melakukan sesuatu tanpa mengharapkan hadiah/upah/dan lain sebagainya. Cukupkanlah hadiah pahala dari Allah SWT, karena hadiah yang Ia berikan lebih besar maknanya daripada apa yang kita dapatkan di dunia ini. Allah tidak hanya memberikan hadiah pahala bagi orang-orang yang senantiasa bekerja dengan ihklas, tapi Allah juga akan senantiasa memudahkan segala urusannya.
InsyaAllah...

My DESEMBER : Awal Bulan di Akhir Tahun

Pagi yang cerah menghampiri suasana Kota nan Indah lagi gagah, dengan pongahnya matahari menyapa Kota Gede ini. Rutinitas pagi yang tidak terlalu padat sepadat Ibu Kota membuat hati saya tergelitik untuk menulis rangkaian-rangkaian kalimat yang saya pikir hanyalah untuk melupakan rutinitas pagi yang meriah. Sedikit bersenang-senang tidak ada masalah asal masih dalam batasan norma dan aturan.

Tanggal 1 Desember, pukul 08:29
Keadaan merapi sedikit tenang, tidak ada gangguan... entah karena sudah ada Mbah Petruk atau Arwah Mbah Maridjan, atau Mbah, Mbah yang lain,,, terserahlah! tapi yang terpenting dengan Izin Allah suasana Jogja sedikit tenang dan normal. Hanya saja gangguan lahar dingin yang sedikit membuat keadaan di beberapa jalanan di Jogja menjadi macet.

Desember,,, si bungsunya bulan yang berada pada urutan dua belas, tidak ada bulan tiga belas, kenapa? apa ada sangkut pautnya dengan si julukan "ANGKA SIAL" hehehe... sepertinya itu tidak ada pengaruh yang krusial. Hanya saja pesan pribadi buat diri sendiri adalah, kembali merencanakan target-target yang ingin di capai di tahun depan. Saatnya merangkai mimpi-mimpi baru yang akan menjadi teman seperjuangan dalam perjalanan menapaki rutinitas di kota Rantau. Dan saatnya kembali untuk bersyukur atas segala target yang telah tercapai di Tahun ini. Hm... Alhamdulillah...

Desember,,,
tidak ada yang menarik emang,,, tidak ada hal khusus, mungkin bagi para kristiani inilah saatnya natal, atau bagi beberapa umat di bagian barat,,, inilah saatnya musim salju! hanya saja, bagi Indonesia ini adalah "detik-detik tragedi". Dalam catatan sejarah Indonesia telah mencatat bahwa ada beberapa peristiwa penting yang tidak dapat dilupakan, yaitu Terjadinya pengeboman massal di beberapa gereja yang ada di kota-kota besar Indonesia dan telah terjadi Tsunami yang untuk pertama kalinya terjadi di Indonesia, tepatnya Aceh. Yang telah menghilangkan pulau sabang, dan membuat salah satu lirik lagu Nasional menjadi abstrak.

Dulunya : "dari sabang sampai merauke"
Sekarang : "dari aceh sampai merauke"

Kan gak lucu?
Tapi kok gak ada yang berusaha menggantikan lirik tersebut dengan indah ya?
Atau karena pencipta lagu tersebut telah tiada?
Atau karena mereka tidak tahu?
Atau tidak mau tahu?

hm... Kembali tersenyum untuk Indonesia.
Berdamai dengan desember!

Itulah rangkaian kenangan Desember bagi bumi pertiwi, akankah lembaran-lembaran sejarah kembali menulis cerita pilu, berita duka, kisah tangis bangsa Indonesia?
Desember akan menjawabnya, kembali mempersiapkan diri untuk segala hal, apapun situasi dan kondisinya, kembali belajar ikhlas untuk menerima segalanya.
Welcome to My Desember...

Love Story

Memaksa keinginan untuk ihklas melepaskan sama dengan membangun bendungan di tengah samudra.
Ia senantiasa terkikis, hancur dan berkeping-keping, sewaktu-waktu dengan tidak terelakkan.
Dan kau akan mengumpulkan kembali puing-puing itu ketika ia telah memilih untuk menjauh dari dirimu.

Tapi ketahuilah...
Ia tidak benar-benar meninggalkanmu
karena kenangan itu senantiasa merangkak di pikirannya ketika ia merasa merindukanmu
Dan jangan kau ulangi kesalahan kedua, sebelum ia benar-benar berusaha melupakanmu
Karena ketika ia berusaha untuk itu, ia akan menggantikan posisimu dengan orang di urutan kedua

Ciptakan kembali lembaran kenanganmu
dan ganti dengan buku yang sama kalau ia sudah benar-benar habis
Biarkan waktu yang menamatkan perjalanan kisah cintamu dengannya
Dan jangan biarkan waktu berkisah pilu untukmu dan untuknya.

Cintailah orang yang mencintaimu,
Bukan orang yang kamu cintai
Karena orang yang mencintaimu akan berusaha membuatmu bahagia
Sementara orang yang kamu cintai, belum tentu bisa membuatmu bahagia

NB_ILOVEU

Do'a Seorang Hamba

Wahai dzat yang mendengar segalanya...
Wahai dzat yang tahu segalanya...
Hamba tidak meminta dibuatkan sebuah al-qur'an lagi untuk hamba
Hamba tidak meminta sebuah gunung diratakan,
dan sebuah lautan dikeringkan

Hamba tidak meminta untuk dikembalikan ke waktu yang silam,
supaya hamba bisa memperbaiki kesalahan-kesalahan hamba
Yang hamba minta hanya rahmat dan ridha Mu,
untuk mengiringi sisa hidup dan kehidupan hamba
Supaya selamat hidup hamba dunia dan akhirat...

Andai semua permintaan hamba Engkau tolak
Sisakan satu hal yang jangan sampai Engkau tolak
Yaitu...
Berilah hamba hati yang bisa bersyukur,
Apapun situasi dan keadaannya
Selebihnya...
Biarlah menjadi KeputusanMu

Amin...

BUDAYA MALU

Tampaknya budaya malu tidaklah lagi memasar dalam lingkungan pergaulan anak muda zaman sekarang. Tak jarang kita melihat rutinitas zina yang bersemayam tidak hanya pada tempat yang remang-remang tapi juga terjadi di tempat yang terang benderang. Tanpa malu pada yang muda, tanpa hormat pada yang tua, dan tanpa dosa berzina di depan mata. Hasil survey yang mengatakan bahwa Indonesia mengungguli peringkat lima besar dalam kompetisi Negara Terbanyak pengidap HIV sudah menjadi rangkaian senyuman pada kita semua. Ini akan menjadi rekor pada negara yang mayoritas muslim di bumi Ibu Pertiwi.

Malam itu, saya dan adik saya bepergian ke salah satu tempat wisata yang ada di Kota Jogja, kota Pelajar katanya. Mengingat rutinitas siang hari yang begitu padat dan membuat lelah, sehingga hati kami pun tergoyah untuk menikmati malam hari di alun-alun kota tersebut. Mobil pun di parkirkan dengan baik dan sempurna, sesempurna SIM A adek saya yang dengan manis tersimpan di dalam dompet cokelatnya. Saya pun membuka pintu mobil, dengan gemulai turun, keluar dan menghirup udara malam kota Jogja pasca gempa. Rindu, yah... sedikit rindu dengan kota ini, kota yang akan menjadi tumpuan pencarian ilmu pasca sarjana.
Lalu saya berjalan menghampiri adek saya, dan kamipun menyeberang menuju lapangan alun-alun.

Baru saja sampai diseberang, pemandangan indah yang membangkitkan birahi nafsu syetan menjadi tontonan gratis semua umat yang berada di alun-alun tersebut. Indah... sangat indah dan bergairah! seketika itu juga, saya lepaskan tangan adek saya, lalu saya berlari menjauh dari tempat laknatullah tersebut.


Inilah budaya yang memalukan!!!
Saya kecewa... saya kecewa telah terdampar di Kota yang saya pikir saya tak mampu dan kuasa untuk menghadapi cobaan-cobaan tersebut. Saya Marah! benar-benar marah! tapi krisis budaya malu telah membudaya. Tak heran memang kalau terjadi pernikahan di usia dini, bukan nikah karena terpaksa, tapi terpaksa nikah.

Masalah keperawanan tidaklah menjadi persoalan penting tampaknya. Harga keperawanan telah diperjualbelikan dengan obral, sale yang semurah-murahnya, ibarat pedagang, cuci gudang katanya. Tidak malu dan tidak tahu malu! tapi inilah yang menjadi fenomena yang membumi di bumi pertiwi, tak gaul kalau zaman sekarang masih virgin! Saya pikir,,, hukum yang telah berlaku di Indonesia sudah jelas menerangkan secara tegas mengenai kebebasan dalam sistem demokrasi. Yang merangkum pernyataan "Tidak ada haktanpa Kewajiban dan tidak ada Kewajiban tanpa Hak".

Permasalahan UU Pornografi dan Pornoaksi yang banyak menimbulkan polemik dalam tatanan hukum positif di Indonesia membuat masing-masing pakar masih tetap berada di tempat terhadap pendapatnya.
Yah... hak mereka mau berbuat apa seenak hatinya dimana saja, tapi sudah menjadi kewajiban kita bersama untuk menjaga kenyamanan antar sesama, terlebih ditempat umum, tempat dimana publik selalu muncul. Dan... masih menjadi PR buat saya "Kemana PP (Pamong Praja) di kota Jogja?"

Rabu, 24 November 2010

GURINDAM 12 (RAJA ALI HAJI)


Bermula inilah rupanya syair. Dengarkan tuan suatu rencana Mengarang di dalam gundah gulana Barangkali gurindam kurang kena Tuan betulkan dengan sempurna Inilah arti gurindam yang di bawah syatar ini Persamaan yang indah-indah Yaitu ilmu yang memberi faedah Aku hendak bertutur Akan gurindam yang beratur

1
INI GURINDAAM PASAL YANG PERTAMA
Barang siapa tiada memegang agama
Segala-gala tiada boleh dibilang nama

Barang siapa mengenal yang empat
Maka yaitulah orang yang ma’rifat

Barang siapa mengenal Allah
Suruh dan tegaknya tiada ia menyalah

Barang siapa mengenal diri
Maka telah mengenal akan Tuhan yang bahri

Barang siapa mengenal dunia
Tahulah ia barang yang terpedaya

Barang siapa mengenal akhirat
Tahulah ia dunia mudharat

2
INI GURINDAM PASAL YANG KEDUA

Barang siapa mengenal yang tersebut
Tahulah ia makna takut

Barang siapa meninggalkan sembahyang
Seperti rumah tiada bertiang

Barang siapa meninggalkan puasa
Tidaklah mendapat dua termasa

Barang siapa meninggalkan zakat
Tiadalah hartanya beroleh berkat

Barang siapa meninggalkan haji
Tiadalah ia menyempurnakan janji

3
INI GURINDAM PASAL YANG KETIGA

Apabila terpelihara mata
Sedikitlah cita-cita

Apabila terpelihara kuping
Khabar yang jahat tiadalah damping

Apabila terpelihara lidah
Niscaya dapat daripadanya faedah

Bersungguh-sungguh engkau memeliharakan tangan
Daripada segala berat dan ringan

Apabila perut terlalu penuh
Keluarlah fi’il yang tidak senonoh

Anggota tengah hendaklah ingat
Di situlah banyak orang yang hilang semangat

Hendaklah peliharakan kaki
Daripada berjalan yang membawa rugi

4
INI GURINDAM PASAL YANG KEEMPAT

Hati itu kerajaan di dalam tubuh
Jikalau zalim segala anggota tubuh pun rubuh

Apabila dengki sudah bertanah
Datanglah daripadanya beberapa anak panah

Mengumpat dam memuji hendaklah pikir
Di situlah banyak orang yang tergelincir

Pekerjaan marah jangan dibela
Nanti hilang akal di kepala

Jika sedikitpun berbuat bohong
Boleh diumpamakan mulutnya itu pekung

Tanda orang yang amat celaka
Aib dirinya tiada ia sangka

Bakhil jangan diberi singgah
Itulah perompak yang amat gagah

Barang siapa yang sudah besar
Janganlah kelakuannya membuat kasar

Barang siapa perkataan kotor
Mulutnya itu umpama ketor

Di manakah salah diri
Jika tidak orang lain yang berperi

Pekerjaan takbur jangan direpih
Sebelum mati didapat juga sepih

5
INI GURINDAM PASAL YANG KELIMA

Jika hendak mengenal orang berbangsa
Lihat kepada budi dan bahasa

Jika hendak mengenal orang yang berbahagia
Sangat memeliharakan yang sia-sia

Jika hendak mengenal orang mulia
Lihatlah kepada kelakuan dia

Jika hendak mengenal orang yang berilmu
Bertanya dan belajar tiadalah jemu

Jika hendak mengenal orang yang berakal
Di dalam dunia mengambil bekal

Jika hendak mengenal orang yang baik perangai
Lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai

6
INI GURINDAM PASAL YANG KEENAM

Cahari olehmu akan sahabat
Yang boleh dijadikan obat

Cahari olehmu akan guru
Yang boleh tahukan tiap seteru

Cahari olehmu akan isteri
Yang boleh menyerahkan diri

Cahari olehmu akan kawan
Pilih segala orang yang setiawan

Cahari olehmu akan abdi
Yang ada baik sedikit budi

7
INI GURINDAM PASAL YANG KETUJUH

Apabila banyak berkata-kata
Di situlah jalan masuk dusta

Apabila banyak berlebih-lebihan suka
Itu tanda hampirkan duka

Apabila kita kurang siasat
Itulah tanda pekerjaan hendak sesat

Apabila anak tidak dilatih
Jika besar bapanya letih

Apabila banyak mencat (mencacat?) orang
Itulah tanda dirinya kurang

Apabila orang yang banyak tidur
Sia-sia sajalah umur

Apabila mendengar akan kabar
Menerimanya itu hendaklah sabar

Apabila mendengar akan aduan
Membicarakannya itu hendaklah cemburuan

Apabila perkataan yang lemah lembut
Lekaslah segala orang mengikut

Apabila perkataan yang amat kasar
Lekaslah orang sekalian gusar

Apabila pekerjaan yang amat benar
Tidak boleh orang berbuat onar

8
INI GURINDAM PASAL YANG KEDELAPAN

Barang siapa khianat akan dirinya
Apalagi kepada lainnya

Kepada dirinya ia aniaya
Orang itu jangan engkau percaya

Lidah suka membenarkan dirinya
Daripada yang lain dapat kesalahannya

Daripada memuji diri hendaklah sabar
Biar daripada orang datangnya kabar

Orang yang suka menampakkan jasa
Setengah daripadanya syirik mengaku kuasa

Kejahatan diri disembunyikan
Kebajikan diri diamkan

Ke’aiban orang jangan dibuka
Ke’aiban diri hendaklah sangka

9
INI GURINDAM PASAL YANG KESEMBILAN

Tahu pekerjaan tak baik tetapi dikerjakan
Bukannya manusia yaitulah syaitan

Kejahatan seorang perempuan tua
Itulah iblis punya penggawa

Kepada segala hamba-hamba raja
Di situlah syaitan tempatnya manja

Kebanyakan orang yang muda-muda
Di situlah syaitan tempat bergoda

Perkumpulan laki-laki dengan perempuan
Di situlah syaitan punya jamuan

Adapun orang tua(h) yang hemat
Syaitan tak suka membuat sahabat

Jika orang muda kuat berguru
Dengan syaitan jadi berseteru

10
INI GURINDAM PASAL YANG KESEPULUH

Dengan bapa jangan derhaka
Supaya Allah tidak murka

Dengan ibu hendaklah hormat
Supaya badan dapat selamat

Dengan anak janganlah lalai
Supaya boleh naik ke tengah balai

Dengan kawan hendaklah adil
Supaya tangannya jadi kapil

11
INI GURINDAM PASAL YANG KESEBELAS

Hendaklah berjasa
Kepada yang sebangsa

Hendak jadi kepala
Buang perangai yang cela

Hendaklah memegang amanat
Buanglah khianat

Hendak marah
Dahulukan hujjah

Hendak dimalui
Jangan memalui

Hendak ramai
Murahkan perangai

12
INI GURINDAM PASAL YANG KEDUABELAS

Raja mufakat dengan menteri
Seperti kebun berpagarkan duri

Betul hati kepada raja
Tanda jadi sebarang kerja

Hukum adil atas rakyat
Tanda raja beroleh inayat

Kasihkan orang yang berilmu
Tanda rahmat atas dirimu

Hormat akan orang yang pandai
Tanda mengenal kasa dan cindai

Ingatkan dirinya mati
Itulah asal berbuat bakti

Akhirat itu terlalu nyata
Kepada hati yang tidak buta

Tamatlah gurindam yang duabelas pasal yaitu karangan kita
Raja Ali Haji pada tahun Hijrah Nabi kita seribu
dua ratus enam puluh tiga kepada tiga likur